Thank you for submitting your feedback!

Your feedback is very important to us.
Someone should respond to you within 24 hours of receipt of your feedback.

Acara

Editor In Chief Femina: All About Luxury Brands

November, 2013

Nilai bisnis Luxury Goods Industry di dunia mencapai USD 175 milyar, dengan pendapatan perusahaan rata-rata mencapai USD 1 milyar per tahun. Luxury Goods selama ini dikenal sebagai produk untuk kalangan atas. Namun, seiring dengan meledaknya jumlah kelas menengah yang ingin bereksperimen dengan brand, Indonesia menjadi pasar yang semakin dilirik. Peluang untuk menjadi pemasar Luxury Brand pun sangat menjanjikan. Fenomena ini disampaikan oleh Petty Fathimah, Editor In Chief Majalah Femina, saat mengisi kuliah umum di kelas Leisure and Lifestyle S1 Marketing pada hari Jumat (22/11) lalu. Tema yang diangkat adalah “Brand Make News – All About The Luxury Brands”.

Menurut Petty Fathimah, metode pemasaran dalam industri lifestyle sangat unik. Segmen pasar yang berbeda dapat dibuat sebagai target pasar yang berbeda maupun sama. Contohnya, pola konsumsi media-media Femina Group dalam sebuah keluarga. “Suami merupakan pembaca Men’s Health, sedangkan istri membaca Women’s Health. Tetapi, keduanya dapat menjadi target pembaca untuk media yang sama, contohnya untuk majalah Ayahbunda, Parenting, maupun Reader’s Digest,” ujarnya.

Sebelum mengupas lebih lanjut tentang Luxury Brand, Petty mengutip Coco Chanel “Luxury is a necessity that begins where necessity ends”. Menurutnya, luxury industry adalah industri yang memproduksi dan menjual barang-barang untuk memanjakan gaya hidup masyarakat kelas atas. Ragam neckties, clothes, leather goods, hingga shoes dapat masuk dalam kategori ini. Konsumen membeli produk mewah semacam Prada, Rolex dan Louis Vuitton karena atribut sosial yang melekat pada merek-merek tersebut.

Ada beberapa konsep dalam luxury industry yang diperkenalkan Petty kepada peserta kuliah. Pertama, Social Fabric, yaitu konsep yang menunjukkan bahwa baju dapat menciptakan kelas-kelas sosial. Kedua, konsep demokratisasi yang dikenal lewat ungkapan “to democratize luxury, to make luxury accessible”. Luxury Goods yang sebagian besar berawal dari artisan, seseorang yang bisa memproduksi barang eksklusif untuk kepuasan idealismenya, pada awalnya diproduksi dalam jumlah terbatas. Namun, timbul dorongan untuk membuka akses sebesar-besarnya terhadap kepemilikan barang mewah, sehingga perusahaan pun melakukan pengembangan dengan melakukan pemasaran yang sangat masif lewat iklan, membuka pasar di negara-negara berkembang, dan memasukkan barang mewah ke dalam dunia ritel. Cina tampil sebagai The New Market industri ini, dan pasar Rusia mengalami perkembangan yang signifikan.

Menurut Petty, motif dalam pembelian luxury goods antara lain adalah sebagai self actualization, mendapatkan kesenangan, rasa nyaman, hingga merasa powerful. Peer pressure dari lingkungan sekitar dapat mempengaruhi berubahnya selera seseorang. Selain itu, Petty juga mengemukakan tentang kuatnya pengaruh trendsetter dalam industri ini. Menurutnya,  kalangan muda, desainer, artis, sosialita, selebritis maupun subconscious subculture dapat menjadi trendsetter yang sangat baik untuk memasarkan luxury brands.

Comments

Captcha