Thank you for submitting your feedback!

Your feedback is very important to us.
Someone should respond to you within 24 hours of receipt of your feedback.

Acara

[Liputan] Brand-Ex

Maret, 2017

Bidang pemasaran merupakan titik penting bagi pertumbuhan organik suatu organisasi. Persaingan bisnis yang semakin ketat, ditambah dorongan kemajuan teknologi membuat pesatnya pertumbuhan model marketing yang diaplikasikan para pebisnis masa kini.

Mengingat kekuatan peranannya, perkembangan dalam konteks branding, digital dan marketing yang terjadi dalam dunia industri memang menarik untuk dikaji. School of Business and Economics Prasmul melalui S1 Branding menghadirkan sebuah ajang diskusi dan networking bagi para praktisi pemasaran dan akademisi, yaitu Brand-Ex. Malam itu, Brand-Ex mengubah Rumah Morocco menjadi sebuah wadah terjalinnya keakraban antara praktisi dan akademisi, serta ajang brainstorming menarik bagi para pelaku pemasaran.

Mengangkat tema “Find Tuning Your Brand Strategy”, Brand-Ex menghadirkan Ricky Afrianto selaku Global Marketing Director – PT Mayora Indah Tbk pada sesi pertama. Didepan jajaran top marketer, akademisi dan beberapa mahasiswa S1 Prasmul, Ricky menjelaskan bagaimana Mayora mencapai posisinya sebagai global brand bukan hanya di Indonesia, tetapi di China, Libanon, Irak bahkan Vietnam.

Diskusi interkatif dibawakan oleh Ricky Afrianto, Global Marketing Director – PT Mayora Indah Tbk dalam Brand-Ex Prasetiya Mulya

Tantangan Marketer

Meski unggul di bidang fast moving consumer goods, bukan berarti problematika tidak menyapa perusahaan ini. Menurutnya, tantangan bisnis saat ini adalah kecenderungan Indonesia untuk menjadi objek di banding subjek “Perusahaan lain menargetkan masuk ke Indonesia, sementara kita tidak ada kecenderungan untuk keluar” paparnya. Tantangan yang selanjutnya perlu diperhatikan pelaku bisnis dan praktisi marketing adalah persaingan dalam maupun luar negeri yang sangat kompetitif dan kompeks  serta kecenderungan retailer dan konsumen yang mengalami perubahan cukup cepat “ Masing-masing retailer punya positioning-nya sendiri, branding itulah yang membuat produk wafer di swalayan A bisa masuk dengan harga sekian, namun belum tentu di swalayan B bisa dijual dengan harga sama. Itu tantangan buat pelaku usaha,” ia menambahkan “ Konsumen saat ini pintar, mereka butuh online dan offline store, dengan perbandingan 50% artinya kedua platform sama – sama penting bagi konsumen. ini tantangan marketer untuk menjamah target consumer kita dengan tepat sasaran.” Ujar pria lulusan S2 Chartered Institute of Marketing, UK.

Online Sangat Penting

Dalam diskusi hangat hari itu, Ricky menjelaskan bahwa publik semakin attached dengan dunia digital “ Dalam 1 menit terjadi 3,5 juta search, 900 login Facebook, bahkan 120 account linkedin yang dibuat. Artinya pergerakan pengguna sangat cepat” jelasnya. Perkembangan internet yang semakin maju ini juga sangat berdampak bagi para pemasar dalam menentukan langkahnya, “Fakta dari Nielsen menunjukan return of investment via online lebih baik dibandingin iklan tv, koran, majalah. Marketer harus pandai lihat data, supaya peluang terbuka.” ungkapnya.

Antara online dan offline marketing

Dengan mempelajari dunia marketing online dan offline, Ricky menganggap bahwa keputusan konsumen untuk membeli barang memang sangat berpengaruh pada kredibilitas barang / jasa tersebut. Maka dari itu diperlukan sinergi antara kedua platform tersebut “Supaya orang tahu atau suka, sebuah merk harus punya brand awareness yang tinggi, maka harus ada engagement dengan konsumen dari offline juga, sehingga ketika mau kita promoin di online mereka sudah paham” jelasnya.

Memenangkan Persaingan

Di akhir pemaparannya, terdapat beberapa cara terutama yang sudah ia uji dalam memenangkan persaingan bisnis. Pertama, strategi harus konsisten dengan tujuan menjadi lovemark brand “Tujuan Mayora dan  mungkin semua brand pasti sama, yaitu mencapai loyalty beyond reason dari konsumennya” tuturnya. Kedua, growth structured, Ketiga inovasinya harus bermakna, keempat, SDM yang andal dan terakhir eksekusi yang sempurna.

Dari Reposisi Hingga Berkontribusi

Kepedulian Prasmul terhadap perkembangan masyarakat dan bisnis di Indonesia membawa S1 Branding melalui Centre for Branding Digital Marketing Studies (CBDM) turut mengadakan riset terkait brand outlook 2017.

 

Donil Beywiyarno, Kepala CBDM & Faculty Member Prasmul memaparkan hasil riset brand outlook 2017

Pada sesi kedua, Donil Beywiyarno selaku Kepala CBDM dan Faculty Member Prasmul memaparkan hasil riset terhadap 50 responden yang terdiri dari para Board Member, Chief Marketing Officer, Senior Manager dan Junior Manager “Riset membuktikan bahwa instrumen media digital dan branding strategy masih menjadi media rujukan yang paling berpengaruh saat ini, dimana industri banyak berinvestasi di dalamnya” jelasnya. Namun demikian, Donil mengemukakan beberapa kendala yang ditemukan industri saat menjalankan digitalisasi ”Pertama, kurangnya kesiapan SDM, kurangnya data konsumen dan kurangnya alat. Masih ada gap untuk memaksimalkan peluang yang ada,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Agus W. Soehadi Ph.d selaku dekan School of Business and Economics Prasetiya Mulya juga menjelaskan bahwa pada tahun ini terjadi peremajaan S1 Marketing menjadi S1 Branding “Reposisi tersebut tidak terlepas dari pesatnya perkembangan di konsep branding sehingga cukup menarik untuk diangkat menjadi program S1.” Beliau juga menambahkan, dengan tenaga pengajar yang cukup kuat di S1 Branding, Prasmul juga ingin lebih berkontribusi untuk masyarakat. Munculnya riset CBDM dan kolaborasi yang kuat antara industri dan pendidikan ini merupakan kontribusi nyata School of Business and Economisc Prasetiya Mulya, khususnya S1 Branding yang diharapkan dapat memperkuat dunia pemasaran dan berdampak bagi masyarakat.

Tanda mata bagi para pembicara Brand-Ex Prasmul

Diskusi interaktif dan edukatif malam itu jelas membuka insight baru bagi seluruh peserta. Di akhir acara, peserta dapat memperluas networking sembari menikmati jamuan gala dinner yang disediakan.  (*VIO)

 

Comments

Captcha