Thank you for submitting your feedback!

Your feedback is very important to us.
Someone should respond to you within 24 hours of receipt of your feedback.

Berita

Artificial Rice Tim Black Hawk Memenangkan Juara Kedua HSBC Young Entrepreneur Challenge

Juni, 2012

Empat mahasiswa angkatan 2009 dari Prasetiya Mulya Business School berhasil mendapatkan Juara ke-2 (Silver) pada Grand Final HSBC Young Entrepreneur Challenge, Sabtu 9 Juni 2012 lalu.  Mereka adalah Adrianto Januri (S1 Finance 2009), Albert Nathaniel (S1 Business 2009), Indra Mangala Masli (S1 Finance 2009) dan Johanes Andrew (S1 Marketing 2009). Hasil ini diperoleh setelah mereka mempresentasikan business plan T-Rice, yaitu beras yang terbuat dari sorgum (sejenis gandum).

HSBC Young Entrepreneur Challenge adalah sebuah kompetisi Business Plan yang diadakan oleh Divisi Business Sustainability & HR Bank HSBC. Kompetisi ini terbuka bagi mahasiswa S1 dan S2. Bisnis yang diajukan tidak boleh hanya menonjolkan sisi profitabilitasnya saja, tetapi harus memiliki dampak bagi sosial dan lingkungan. Business plan yang dikumpulkan tidak boleh lebih dari 10 halaman. Lebih dari 200 business plan terkumpul dalam kompuetisi tersebut. Lima business plan terbaik dipilih untuk maju ke babak Grand Final dan mempresentasikan business plan mereka di hadapan juri. Kriteria penilaian pada saat presentasi meliputi: Innovation and Creativity, Execution and Practicality, Market Potential & Growth, Team Dynamics and Presentation Skills.

Konsep bisnis yang diajukan oleh Black Hawk tim adalah memperkenalkan “Beras Analog” temuan Dr. Slamet Budijanto, seorang penemu dari IPB. Beras Analog adalah beras yang terbuat dari makanan pokok alternatif (singkong, jagung, sagu, sorghum, dll). Ide ini berangkat dari analisa akan menurunnya ketahanan pangan Indonesia. Budaya penduduk Indonesia “kalau belum makan nasi, berarti belum makan” berdampak pada tingkat konsumsi beras yang sangat tinggi. Pemerintah telah berusaha untuk mengatasi permasalahan ini dengan impor beras dan mensosialisasikan makanan pokok alternatif. Tapi kedua upaya ini gagal. Impor beras berdampak negatif terhadap kesejahteraan petani, sedangkan pengalihan konsumsi ke makanan pokok alternatif gagal karena adanya budaya makan nasi tadi. T-Rice merupakan sebuah solusi dari permasalahan ini, karena produk yang ditawarkan tidak mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia. Rasa, bentuk dan teksturnya sangat mirip dengan beras, dengan gizi yang lebih tinggi dan harga yang lebih ekonomis. Target dari business plan mereka adalah membiasakan masyarakat menengah ke bawah mengkonsumsi pangan alternatif tanpa perlu mengubah habit makan nasi. Hasil yang diharapkan, proyek ini nantinya mampu mendorong pertanian lokal, meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat dan dapat mengurangi impor beras.

Konsep bisnis yang sangat komprehansif ini berhasil mendapatkan Juara ke-2 pada Grand Final HSBC YEC. Konsep mereka dinilai dapat menjembatani inovasi dengan bisnis, serta memiliki dampak sosial yang sangat luas. “Saya sangat bangga dapat terpilih menjadi 5 besar lomba ini. Meskipun belum memenangkan juara pertama, tujuan besar kami sudah tercapai, yaitu memperkenalkan inovasi pangan dari Prof. Slamet Budijanto ke audience yang lebih luas. Menteri koperasi dan UKM bahkan mendatangi kami untuk mengajak diskusi lebih jauh mengenai bisnis beras analog ini,” ujar Andrew, anggota kelompok Black Hawk.

Comments

Captcha