Thank you for submitting your feedback!

Your feedback is very important to us.
Someone should respond to you within 24 hours of receipt of your feedback.

Berita

Find Out How Applied Learning Process Will Nurture and Empower Talents to Become Succesful Entrepreneurs or Professionals

November, 2016

Panduan Sukses Sarjana Teknik di Dunia Bisnis Ala Arthur Siahaan

Arthur Siahaan (41), Director of Systems Engineering-Enterprise and Commercial Segments PT.Cisco Systems Indonesia telah mencapai kesuksesan karier di bidang teknologi informasi. Berbekal perpaduan pengetahuan ilmu teknik telekomunikasi dan manajemen yang dimilikinya, lulusan Universitas Prasetiya Mulya ini mencetuskan ide bisnis serta berkontribusi untuk kemajuan industri.

“Jadi yang dibutuhkan sekarang adalah gabungan, tahu tentang tekniknya, tapi kita tahu juga tentang bisnisnya. Jadi dituntut antar ruang lingkup lah”, kata Arthur Siahaan. Sisi bisnis itu adalah adanya pemahaman tentang permasalahan customer dan usulan solusi dapat berupa praktik teknik berbasis pengetahuan teknologi informasi.

Dalam memberikan solusi penyelesaian masalah pun, tenaga profesional di perusahaan teknologi informasi harus mengerti tentang bisnis yang dijalankan oleh konsumennya. Arthur menambahkan, ”Trend nya malah ke arah customize, tahu bisnisnya customer, jadi kita punya solusi-solusi untuk customer dan vertikal. Vertikal itu maksudnya di industri financial services, di industri manufacturing, itu akan berbeda-beda.”

Oleh karena itu, seorang profesional di bidang tersebut tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan teknik semata. Data-data dan infomasi lain terkait bisnis customer sangat dibutuhkan sebagai bahan analisis ketika menghadapi masalah tertentu. Sebab setiap lingkup bisnis memiliki perbedaan tergantung pada bidang usahanya. Arthur mengistilahkan kompetensi itu dengan kata customize.

Tak cukup berbekal kemampuan teknik dan bisnis, sumber daya manusia di bidang teknologi informasi juga harus memiliki beberapa karakter diri yang khas, termasuk inovatif serta memiliki dorongan untuk mengembangkan diri sesuai tren. “Kalau inovatif karena kita bisa tahu dan kasih solusi ke masing-masing customer yang berbeda-beda”, ujarnya.

Tenaga yang dibutuhkan di industri tersebut juga harus terus mengembangkan diri secara berkelanjutan. Terkait hal itu, Arthur menjelaskan bahwa profesional harus memperbaharui keterampilan dengan penemuan teknologi-teknologi terbaru, misalnya seorang ahli di bidang software engineering harus siap terhadap perubahan dari configuration programming manual ke coding melalui program perangkat lunak tertentu.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi tersebut, tuntutan peningkatan keterampilan para praktisi juga dibutuhkan. Pemilik profesi network engineer yang pada umumnya cenderung lebih mengerti hardware, harus belajar untuk menguasai software. “Network engineer mungkin akan ada adaptasi. Kan majority bicaranya hardware, akan ada transformasi, harus tahu tentang software juga. Tentang bisnis juga”, tutur Arthur.

Arthur pun berpendapat bahwa sumber daya manusia Indonesia sebetulnya sudah siap menghadapi kondisi up grade keterampilan tadi. Arthur menimpali, “Sumber daya manusia-nya beberapa expert. Itu jasa-jasa konsultan yang ditawarkan, itu bukan hanya berlaku untuk Indonesia tapi kirim ke luar. Brandware-nya luar biasa.”

Kebutuhan sumber daya manusia di bidang tersebut dijawab oleh Universitas Prasetiya Mulya yang membuka program studi S1 Software Engineering dan S1 Computer System Engineering pada 2017. Program dirancang agar lulusannya memahami aspek teknik di bidang teknologi informasi dan mahasiswa diarahkan untuk memahami proses bisnis manajemen di organisasi atau korporasi sehingga lulusannya diharapkan bisa menjadi entrepreneurial engineer yang andal.

Jadi... siapkah mewujudkan impian menjadi ahli teknologi informasi sekaligus pebisnis handal yang sukses? Temukan kisah inspirasi dari alumnus Prasetiya Mulya lainnya. (Nur Desilawati/PR)


Lima Karakter yang Harus Dimiliki Calon Profesional Sesuai Kebutuhan Industri

Aloysius Budi Santoso, Chief of Corporate Human Capital Development PT. Astra International Tbk

Jumlah sarjana lulusan universitas terus meningkat. Mereka berasal dari berbagai jurusan, baik dalam ranah teknik, sosial maupun ekonomi. Semakin tinggi jumlah lulusan perguruan tinggi, tentu persaingan dalam mencari pekerjaan semakin ketat.

Meskipun demikian, bukan hal yang tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan impian. Modal berupa pengetahuan dan keahlian yang didapatkan sebagai bekal dari bangku kuliah belum tentu cukup. Beberapa karakter diri harus dimiliki oleh seseorang agar dapat terserap oleh kebutuhan industri, baik pada saat ini maupun masa depan.

Terkait hal tersebut, Aloysius Budi Santoso, Chief of Corporate Human Capital Development PT. Astra International Tbk. mengatakan, “Prinsipnya kita kalau dalam konteks rekrutmen. Astra sih sederhana saja, yaitu kita kenal yang namanya 2C. Satu kompeten, yang kedua adalah cultural fit, secara kultur atau nilai-nilai fit dengan perusahaan.”

Kompeten di sini adalah seorang calon pegawai harus menguasai pengetahuan sesuai dengan bidang dimana ia akan bekerja dan bersifat teknis, misalnya untuk posisi keuangan dapat berlatar belakang keilmuan studi finansial. Berbeda dengan sisi kultur, perusahaan melihat seseorang dari kesesuaian sifat pribadi dengan budaya atau nilai-nilai yang ada di perusahaan. Berikut adalah lima karakter calon tenaga kerja yang dibutuhkan.

Teamwork

Kemampuan bekerja dalam tim adalah karakter yang harus dimiliki oleh seorang calon tenaga kerja. “Orangnya biasa itu teamwork, bukan Superman. Yang ada adalah super team. Punya jiwa semangat teamwork atau tidak,” ujar Budi.

Berorientasi pada kepuasan customer

Tak ada yang salah dengan prinsip pelayanan jasa yakni selalu berorientasi pada kepuasan customer dan senantiasa ingin mencapai hal itu. Karakter tadi penting karena sebuah perusahaan sulit menjaga kelangsungan usahanya, jika tidak mampu memelihara hubungan dengan konsumen dan mempertahankan tingkat pelayanan yang baik. “Bagaimana kita mampu memuaskan pelanggan kita,” ucap Budi.

Kepedulian

Rasa peduli seorang karyawan bisa diwujudkan dengan cara menghargai sesama individu dalam lingkungan pekerjaan. Aloysius Budi Santoso menegaskan, “Perlu sekali itu menghargai sesama individu agar mampu bertahan dan mempromosikan teamwork.”

Adaptasi komunikasi antar generasi

Saat ini, generasi Y (tahun kelahiran 1981 hingga 1995) hampir 70 persen memenuhi dunia kerja dan dianggap tidak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, termasuk dengan generasi X (tahun kelahiran tahun 1961 hingga 1980) atau yang lebih tua sekalipun. Hanya saja mereka juga harus tetap menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Tenaga profesional yang menjadi bagian dari generasi X juga harus dapat beradaptasi dengan mereka. Budi menambahkan, “Secara komunikasi mereka kan egaliter ya. Sangat spontan, sangat direct, batas-batas antar generasi sangat tipis. Kayak pintu saya ini anak-anak muda main ketuk lalu masuk saja. Kalau zaman dulu kita mana berani. Generasi X nya juga tidak bisa sok jaim, ya harus friendly dengan generasi Y. Kedua belah pihak harus dapat beradaptasi.”

Tidak gampang menyerah

Karakter tidak gampang menyerah atau strive for excellence penting untuk dimiliki oleh sumber daya manusia sebuah perusahaan sebab mencapai keberhasilan dengan keunggulan tertentu bukanlah mudah. “Kalau sedikit-sedikit sudah marah, ya susah. Jadi harus tough,” tutur Budi.

Sifat tough inilah yang sulit didapatkan pada diri calon tenaga kerja. “Padahal hidup bisa mudah, bisa juga tidak mudah,” kata Budi. Baginya generasi saat ini mudah sekali menyerah dan tidak sabar dalam melalui perjalanan serta menghadapi ujian karier.

Pengembangan Karakter di Bangku Kuliah

Kelima karakter itu dapat ditanamkan sejak seorang calon tenaga kerja menempuh pendidikan di universitas. “Ya sekolah atau universitas dapat membantu pembentukan karakter itu. Misalkan memaksakan sebelum lulus untuk ikut kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler,“ ucap Budi.

Beberapa universitas pun telah berusaha untuk menanamkan pembentukan karakter tersebut, di antaranya Universitas Prasetiya Mulya. Selama menempuh program sarjana, mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti beberapa tahapan kegiatan mulai dari Introductory Program, Personal Development dan mentoring. Pada tahun pertama perkuliahan mahasiswa didorong untuk cepat beradaptasi, memahami budaya profesional serta  kewirausahaan sejak awal. Program untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa pun dilaksanakan, termasuk yang terkait dengan kemampuan analisis, interpersonal-skills, maturity, prestasi, beserta komunikasi.

Selain harus berkompetisi antar mahasiswa untuk nilai mata kuliah, kebiasaan kerja sama dan kolaborasi dalam beberapa proyek juga dibiasakan. Mahasiswa pun didorong untuk memiliki career point yang didapat melalui kegiatan kemahasiswaan dan organisasi serta keikutsertaan dalam kegiatan seminar, lomba atau kegiatan non akademik.

Pada tahapan berikutnya, mahasiswa didorong untuk memiliki social awareness melalui  program community development. Di tahap 1 dilakukan kegiatan sosial dan pada tahun berikutnya program itu dilaksanakan dengan membimbing usaha skala mikro bagi masyarakat pedesaan di beberapa wilayah. Jenis usaha yang dikembangkan pun harus sesuai dengan kearifan lokal.

Oleh karena itu, mahasiswa diharuskan untuk dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat guna mengetahui potensi daerah tersebut. Selanjutnya, mereka akan merintis dan mengembangkan peluang bisnis itu. Sebab jika salah sasaran, rintisan bisnis itu mungkin akan menghasilkan tingkat keberhasilan yang rendah.

Mengetahui hal tersebut, Budi yang merupakan alumni Universitas Prasetiya Mulya mengatakan, “Itu bagus yang kayak gitu-gitu. Bikin tough. Semakin penting sekarang, kalau nggak susah.” (Nur Desilawati/ PR)


Tren Peralihan dari Fosil ke Energi Terbarukan

Budi Basuki, Chief Operations Officer (COO) Power and Mining, PT. Medco E&P Indonesia Tbk

 

Industri energi di Indonesia terus berkembang, sejalan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi. Saat ini dominasi penggunaan energi berasal dari sumber daya konvensional, yang ketersediaannya terus menipis,  seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam. Oleh karena itu, negara ini memiliki pekerjaan rumah untuk mencari solusi energi alternatif terbarukan serta ramah lingkungan.

Sehubungan dengan hal tersebut, Budi Basuki, Chief Operations Officer (COO) Power and Mining, PT. Medco E&P Indonesia Tbk. mengatakan, “Tapi jangan berpikir lagi energi fosil karena kalau kita di energi fosil, kita memang sudah terlambat. Harusnya kalau pun berani membuka wacana energi renewable.”

Energi terbarukan tersebut bisa diperoleh dari bioenergi, matahari, air, angin hingga panas bumi. Sehubungan dengan hal itu, Indonesia memiliki potensi yang besar dan mulai dikembangkan di berbagai wilayah di Indonesia. Budi Basuki menuturkan, “Kita punya potensi panas bumi yang paling besar. Di samping itu, kita juga merupakan produsen Crude Palm Oil (CPO). CPO ini bisa dikonversi menjadi bahan bakar minyak (BBM).”

Bioenergi juga dapat dikembangkan dari bahan dasar pertanian seperti bonggol jagung, sekam padi, Jatropa dan Kemiri Sunan. “Ada satu perusahaan hutan tanaman industri di Merauke dan akan kita konversi sebagian untuk pangan yang ditanami ada Jatropa, Kemiri Sunan. Kemudian kita juga mengembangkan industri pembangkit listrik tenaga biomassa di Indonesia Timur. Jadi kita pakai tenaga dari lapangan kehutanan,” ujar Budi Basuki, yang juga merupakan alumnus Prasetiya Mulya. Keputusan untuk memilih Merauke sebagai area operasional penghasil listrik tenaga biomasa bukanlah tanpa alasan. Dalam hal ini, pulau Jawa sama sekali tidak masuk dalam pertimbangan karena keterbatasan lahan.

Kelapa sawit selain menghasilkan CPO, limbahnya pun dapat diolah menjadi sumber energi baru. Inovasi teknologi biomassa memungkinkan pengolahan ini. “Sampah kelapa sawit seperti cangkang dan daun bisa dikelola menjadi biogas,” ujarnya.

Melihat besarnya potensi yang dimiliki oleh Indonesia tersebut, selain peran perusahaan, diperlukan juga kontribusi akademisi dalam pengembangan energi terbaharukan melalui pendidikan dan penelitian. Terkait hal itu, Universitas Prasetiya Mulya memiliki perhatian besar dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Upayanya ditunjukkan dengan dibukanya program studi S1 Energy Engineering. Program ini fokus pada keahlian di bidang konservasi energi, bioenergi, energi matahari, tenaga air dan angin, panas bumi yang dilengkapi dengan pemahaman bisnis serta kewirausahaan. Proses pembelajaran menekankan pada project-based activity dalam mendesain beserta membuat prototipe produk yang bisa dikomersialisasikan melalui kolaborasi dengan industri. Lulusan S1 Energy Engineering pun diharapkan dapat menjadi seorang tenaga ahli atau wirausaha di bidang energi.

Jadi... Siapkah kamu menjadi pelopor inovasi energi terbarukan? (Nur Desilawati/PR)

Comments

Captcha