Cerita Prasmul
42 and Still Counting: Birgitta Graciella, Ketua SB Perempuan Pertama di Prasmul

42 and Still Counting: Birgitta Graciella, Ketua SB Perempuan Pertama di Prasmul

Memulai babak baru kehidupan sebagai mahasiswa merupakan perubahan besar. Kamu sudah bukan remaja lagi, tapi kamu sudah memasuki masa awal sebagai orang dewasa. Tanggung jawab mulai bertambah, tidak hanya berkisar pada belajar dan baca buku modul saja. Bahkan, tidak menghapus kemungkinan juga mahasiswa merantau jauh dari rumah.

Waktu membiasakan diri dengan keadaan baru, mahasiswa baru pasti akan digempur oleh bermacam-macam emosi … alias homesick. Sebuah riset menyebut sekitar 90 persen mahasiswa mengalami homesick.

Birgitta Graciella

Being far from home sebetulnya melatih kita untuk menjadi independent. Waktu tingkat awal, tentunya homesick itu pasti ada, tapi seiring berjalannya waktu, kita akan mulai sadar kalau sebetulnya happiness can come from anywhere. We choose to be happy or not.” ucap Mahasiswi S1 Business ini.

Nah, kini saatnya mencari distraksi untuk mengurangi kangen rumah dan kangen kebiasaan lama. Ini juga efektif walau kamu bukan perantau, lho, seperti Birgitta Graciella, contohnya.

“Mindset ini selalu saya terapkan sejak awal masuk Prasmul dan betul betul berhasil membuat saya menikmati masa kuliah ini walaupun jauh dari rumah. I’ve never been better before dan malah jadi enjoy banget dengan kehidupan independen ini!”

Who’s That Girl?

Lantas, apa yang Birgitta lakukan?

Sebelumnya, mari berkenalan dengan Prasmulyan angkatan 2022 berzodiak Gemini ini, yang punya 42 pin kegiatan kemahasiswaan tersemat di jaket almamaternya, dan juga baru saja dilantik menjadi President of Student Board perempuan pertama di Prasmul (periode 2024/2025).

Pernah menjabat jadi Koordinator Public Relations Student Board Prasmul periode 2023/2024, leadership sudah menjadi passion sang alumnus SMAK 1 Penabur Jakarta.

“Sejak dulu saya juga merupakan individu yang memiliki hobi yang rentan berubah dan tidak memiliki banyak hard skill,” Birgitta mengakui. Namun, meski terlihat seperti ‘kutu loncat’, justru Birgitta mendapat pencerahan bahwa passion dan interestnya merupakan berpartisipasi dalam suatu organisasi. 

“Organisasi dan kepanitiaan merupakan tempat yang cocok untuk saya dapat menjalankan hal yang saya suka sambil belajar dan mengenal lingkungan baru. Di Prasetiya Mulya sendiri, sebetulnya sangat banyak hal yang bisa kita manfaatkan apabila kita ingin belajar dan berkembang. Bagi saya, kepanitiaan dan organisasi itulah yang menjadi sumber ilmu terbesar saya. Tidak hanya ilmu, saya banyak mendapat keluarga baru dari sana.”

Rise and Grind

Mungkin, banyak juga yang bakal kurang sependapat atau tidak sepandang dengan Birgitta. Namun tidak apa-apa, karena menyalurkan passion tidak hanya melalui organisasi dan kepanitiaan. 

Bagi sang mahasiswa yang merupakan jebolan jurusan IPA saat SMA itu, yang penting bisa membagi waktu dan memanfaatkan momen untuk menjadi produktif.

“Pada awalnya, saya mengikuti seluruh kegiatan itu untuk mengisi waktu luang saya,” Birgitta bercerita soal kecintaannya pada mengambil peran kepemimpinan. Bahkan ia mengaku bahwa ia merupakan pribadi yang tergolong workaholic. Namun seiring berjalannya waktu, Birgitta menyadari beberapa hal.

“Saya mulai menyadari bahwa kegiatan ini tidak hanya dapat mengisi waktu luang saja, namun sebetulnya berjalan seperti simbiosis mutualisme.Secara langsung maupun tidak langsung saya memberikan kontribusi positif,” ucapnya.

Birgitta juga menekankan pentingnya time management. 

“Kita harus tau proporsi antara bekerja, hiburan, dan istirahat. Ga harus 24 jam kerja terus, nanti yang ada malah burn out. Istirahat juga harus tetap cukup, karena kalau istirahat kurang malah ruin the mood for the next day dan itu bikin ga produktif & time management super hancur. Tapi satu hal yang paling penting, kita harus tahu batasan kita masing-masing.

Berikut beberapa tips dari Birgitta, untuk beberapa tipe orang dan pola kerja mereka:

Buat yang gampang bosan:

Coba metode selang-seling (waktu produktif – break – waktu produktif – break). Misalkan, kerja 1 jam, break 10 menit. 

Buat yang cenderung fokus:

Maksimalkan waktu kerja hingga jenuh, baru break. Misalkan, dalam sehari, 8 jam dibabat untuk kerja, lalu ketika sudah selesai waktunya bekerja, waktu break digunakan tanpa interupsi.

Selamat mencoba!

Graciela

Add comment

Translate »